PUISI SUNGSANG SUPARDI AR

Sastra 20 Jun 2026 09:59 3 min read 83 views By Supardi AR

Share berita ini

PUISI SUNGSANG SUPARDI AR
mencoba memainkan tinta ternyata sudah terlihat beda dibandingkan tulisan tangan usai lulus sekolah

di padang sepi

seorang lelaki dengan seksama

mendengar alunan lagu

limapuluh tahun lalu

-tersenyum dianya padaku

manis manis manis

kubelai rambutnya yang hitam

sayang sayang sayang

alangkah senang hatiku

bila kudekat denganmu

alangkah senang hatiku

sayangku hanya padamu *

..........-

angin malam bertiup dingin

tubuhnya menggigil

gemeretak gigi dan sembab matanya

terlintas masamasa

 

KENANGAN

pangsit, 16062019

*) Manis dan Sayang, dari vol.1 Koes Plus

 

 

 

'ku selalu mencoba untuk menguatkan hati

dari kamu yang belum juga kembali

ada satu keyakinan yang membuatku bertahan

penantian ini 'kan terbayar pasti

lihat aku, sayang, yang sudah berjuang

menunggumu datang, menjemputmu pulang

ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam

aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini

tetap di sini

..............

Menunggu Kamu – Anji

 

 

ia tancapkan sebatang paku

tepat pada tubuhnya

menggelinjang kejang bola matanya putih

ia rasakan gelapnya dunia

ia rasakan belaian angin

terbakar tubuhnya menguap jiwanya

 

SECUIL BALADA SEBATANG PAKU

klepurba, 9 juni 2026                  

 

 

di sela guratan guratan meja tua

seekor waktu patah sayap

tergeletak tanpa bunyi jatuh

semut semut membawa senja pulang

ke sarang berbau musim lalu

di sana bulir bulir air

menyembunyikan langit sebesar luka

angin pun lewat berkaki debu

oh menggiring bayangan menuju jurang

sementara usia mengunyah dirinya

tanpa sadar di telapak bulir bulir air

tertidur hutan bersama burung burung batu

tak sempat terbang sebelum fajar

retak memecah cermin nasib

setiap tetes memelihara dunia

pada bulir bulir air berkilau

seekor matahari mengecil perlahan

masuk ke lubang jarum kenangan

lalu berubah menjadi perahu garam

berlayar di sungai nadi manusia

hingga malam lupa dan kehilangan nama

 

BULIR BULIR AIR

Klepu, 4 Juni 2026

 

 

ia dengar suara meretas nadi

menjalar ke batangbatang hari

saat ia sapa pagi

selimut pindah di trotoar seberang rumah

disedunya segenggam teh

lantas ia nikmati

kala matahari berwajah ceria

menyapa punggung petani

 

MERETAS NADI

klepurba, 16 Mei 2026

 

 

terlihat cangkir retak menggigil sendiri

kartosopo terlihat memanggul sekarung gabah

jalan dusun penuh lumpur dingin

nampak lelaki tua berjalan pincang

bulan keropos mengunyah awan

langit pecah di punggungnya

“pajak naik lagi!” seru pak lurah

burung gagak hinggap di surau

di bawah pohon randu lapuk

kartosopo bertemu penjual candu

mata perempuan bagai rawa

sementara lelaki tua menahan batuk

“dunia cuma pasar luka,”

bisik perempuan sambil tertawa

daun-daun pun jatuh bagai doa

lelaki tua memejamkan matanya

subuh basah menyeret bau got

kartosopo mendengar tangis bocah

“bapak belum pulang, mak!”

oh knalpot truk mengguncang jembatan

lihat nasi aking diperebutkan ayam

dan matahari bangkit seperti algojo

di halaman balai desa penuh poster

kartosopo menantang mandor pabrik

“perut kami bukan kaleng, tuan!”

lelaki tua mengangkat cangkul

serdadu desa ia menudingkan senapan

maka langit memerah seperti luka bakar

orang-orang hanya diam menahan takut

menjelang matinya musim kemarau

kartosopo duduk dekat kuburan

suara azan telah hanyut perlahan

“tubuh cuma persinggahan debu,” ucapnya

bibir lelaki tua tersenyum getir

sambil memungut senja

bulan bongkok pecah di matanya

 

BALADA LELAKI TUA

Klepurba, 11 Mei 2026

 

 

 

 

 

 

 

Rumah Talenta Indonesia